.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Sunday, October 1, 2017

Nehemia 1-5,2 Korintus 9, Amsal 25

Nehemia 2:4, 8 (TB)  Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit,
Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng Bait Suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.

Sebelumnya Nehemia berdoa meminta belas kasihan raja, dan Allah mengabulkannya! Siapa yang mengira seorang raja akn memperhatikan juru minumnya dan bertanya apa yang menyusahkan hatinya. Luar biasanya Nehemia , saat sang raja bertanya pun dia gak langsung menjawab dan mengandalkan pemikirannya sendiri. Nehemia  BERTANYA KEPADA TUHAN sebelum berbicara. Nehemia tahu kalau ini adalah jawab doanya, dia mendapat belas kasihan dan perhatian raja, dia gak boleh salah langkah, makanya dia bertanya pada Tuhan.

Berapa banyak di antara kita yang memulai dengan Tuhan tapi di perjalanan melupakan Tuhan dan mulai mengandalkan diri sendiri? Nehemia menyertakan Tuhan karena dia tahu Tuhan telah membuka jalan maka yang bisa menolongnya berada di jalan yang benar sampai akhir hanyalah Tuhan.

Nehemia 4:4, 6 (TB)  Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati.

Nehemia dkk bergerak dan mulai melaksanakan pembangunan kembali tembok sesuai dengan keinginan Tuhan tetapi Sanbalat dan Tobia menghina mereka. Saat itu, Nehemia gak membalas hinaan mereka, yang dilakukannya hanya BERDOA dan MENERUSKAN PEMBANGUNAN TEMBOK.

Ada kalanya aku akan  dihadapkan pada situasi seperti Nehemia, aku melakukan pekerjaan yang Tuhan ingin aku kerjakan tetapi ada orang yang menghina. Yang perlu aku lakukan adalah melakukan seperti yang Nehemia lakukan,  BERDOA dan MENERUSKAN PEKERJAAN YANG AKU KERJAKAN. Menjawab atau membalas penghinaan hanya akan memperlambat pekerjaan yang aku kerjakan,  aku harus fokus pada panggilanku.

Nehemia 5:15 (TB)  Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah.

Tidak seperti bupati-bupati sebelumnya,  Nehemia tidak mau mengambil​ keuntungan melalui jabatannya karena dia takut akan Tuhan. Alasannya karena NEHEMIA  TAKUT AKAN TUHAN. Bukan karena takut ketahuan, bukan karena mencari muka, bukan karena takut dihukum. Nehemia takut akan Tuhan. Titik.

Apakah alasanku gak berbuat dosa?
Sekedar takut akibatnya atau karena aku takut akan Tuhan. Kalau aki gak melakukan hanya karena takut akibatnya berarti hidupku berfokus pada diriku sendiri, bukan Tuhan.

2 Korintus 9:7 (TB)  Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Aku teringat pernah mendengar khotbah, aku lupa dimana, yang jelas intinya tentang memberi dengan pengorbanan. Salah satu cara melihat apakah kita sudah memberi dengan berkorban adalah apakah terasa 'sakit' saat memberi. Terasa sakit maksudnya, ada kalanya kita memberi padahal kita berkekurangan. Atau, ada kalanya kita harus mengesampingkab kebutuhan sendiri demi dapat memberi. Tapiiii.... Aku merasakan terkadang aku gampang merasa 'sakit'  dibandingkan orang lain saat memberi. Apalagi saat aku lebih fokus pada kebutuhanku sendiri dibandingkan taat pada Tuhan. Tetap sih memberi, tapi terpaksa #sigh.

Jadiiiii,  hari ini aku diingatkan kalau aku harus belajar memberi dengan sukacita. Gak perlu merasa sakit hati dan merasa terpaksa! Kenapa? Karena sebenarnya kalau dipikir Tuhan memberikan sukacita saat memberi:
👉 sukacita karena turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan
👉 sukacita karena dipakai Tuhan menjadi jawaban doa orang lain
👉 sukacita melihat pemberian kita jadi berkat bagi orang lain
👉 sukacita karena taat
👉 sukacita karena kelebihanku mencukupkan kekurangan orang lain

Banyak alasan untuk bersukacita saat memberi, tapi terkadang aku lebih fokus pada rasa sakitnya sehingga gak melihat bahwa begitu banyak yang bisa disyukuri.

Amsal 25:28 (TB)  Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.

Kota yang gak punya tembok akan mudah diserang musuh, akan mudah hancur. Membangun tembok sebuah kota memang gak mudah, tapi harus dilakukan supaya kota tetap aman.

Pada kehamilan kedua ini aku gampang sekali merasa lapar, berbeda dengan kehamilan pertamaku. Benar-benar pergumulan untuk gak ngemil, atau makan tengah malam. Tapi aku harus mengendalikan diri kalau gak ingin membuat kehamilanku semakin beresiko, kalau aku kebanyakan makan aku akan gampang capek, tekanan kemungkinan meningkat, dll.

Aku membuat batasan dalam hal makan memakan ini.
👉 mengurangi karbohidrat, tetapi makan ikan dan sayur lebih banyak
👉 nyetok buah supaya ngemilku buah
👉 gak nyetok makanan manis atau snack yang gak bergizi

Kasongan,  25 September 2017
-Mega Menulis-

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, silakan tinggalkan komentar ya.

Matius 4

Matius 4:1 - 11 Scripture Matius 4:7 (TB)  Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"...