.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, March 20, 2019

Hagar : Wanita yang Didengar Allah

Bacaan: Kejadian 16: 1-16; Kejadian 21:8-21

Hagar adalah seorang wanita Mesir yang menjadi budak bagi Abraham dan Sara ketika mereka meninggalkan negeri itu. Meninggalkan tanah kelahiran bukan hal yang mudah bagi seorang wanita, apalagi untuk menjadi budak bagi orang dari bangsa lain. Hagar tentunya bukan budak biasa karena Sara kemudian memberikannya kepada Abraham, menjadi istri Abraham dan melahirkan anak baginya. Sebagai budak, Hagar tidak dapat menolak. Hagar sendirian, tidak punya hak, tidak dapat melawan, tidak berdaya, dan tidak memiliki siapa-siapa untuk membelanya. 

Bayangkan kita berada di posisi Hagar, mungkin bukan sebagai budak, tapi dalam posisi merasa sendirian, tak berdaya, dan tak ada yang membela. Pastinya pernah ya. Di saat seperti ini kita perlu mengingat, ada Tuhan yang membela kita. Ada sebuah janji Tuhan yang sangat indah dan dapat kita perkatakan saat kita sedang merasa seperti Hagar:


Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
(Ibrani 13:5b)

Tidak peduli apa yang kita lihat atau rasakan, firman Tuhan berkata demikian: Allah tidak pernah membiarkan kita dan meninggalkan kita! Jangan biarkan hidup diisi dengan perasaan disingkirkan, tetapi imani apa yang dikatakan firman Tuhan. Apa yang sudah dijanjikan Allah pasti akan digenapi-Nya. Namun, kita harus yakin bahwa kita berpegang pada firman Allah yang sesungguhnya saat kita menunggu janji-Nya. Iman kita bukan berdasarkan perasaan. Iman kita seharusnya berdasarkan firman Tuhan. Dengan demikian, kita memperoleh jaminan bahwa Allah akan melakukan atau memberikan apa yang dijanjikan-Nya. Iman hanya berdampak apabila berlandaskan firman Tuhan.

***

Awalnya, Hagar adalah pihak yang tak bersalah. Penderitaan Hagar bermula ketika kehamilan justru membuat Ia memandang rendah Sara yang mandul. Alih-alih bersyukur atas anugerah yang diterimanya, Hagar justru jatuh dalam dosa kesombongan. Ia lupa, bahwa sebagai budak, Sara adalah majikan yang punya kuasa atas dia dan harus ia hormati. Ketika Sara kemudian bertindak tegas, ia memilih melarikan diri. Dalam pelariannya, Hagar berjumpa dengan malaikat Tuhan yang menghiburnya dan memberikan janji Allah. 

Walaupun Hagar melakukan kesalahan, kita menyaksikan bagaimana Allah sungguh memperhatikan hidupnya. Bahkan saat ia melarikan diri dalam keadaan hamil karena ditindas majikannya, Allah memberikan berkat khusus baginya melalui malaikat-Nya yang menunjukkan bahwa Allah mengenal Hagar secara pribadi dan memberikan tuntunan bagi Hagar untuk kembali pada Sara. Yang lebih luar biasa, ada janji yang dinyatakan Allah baginya :

Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.
(Kejadian 16:10-11)

Janji tersebut sekaligus merupakan penghiburan bagi Hagar. Saat Hagar kembali pada Sara, janji itu akan memberikan pengharapan baginya. Kalau dipikir, luar biasa cara Tuhan menyatakan diriNya kepada Hagar yang belum percaya kepada-Nya. Ingat, Hagar adalah keturunan Mesir yang mungkin hanya mengetahui tentang Tuhan dari Sara dan Abraham. Dia belum mengenal Allah secara pribadi tapi Allah berkenan menyatakan diri-Nya. Allah yang disembah oleh tuan dan nyonya-nya ternyata memperhatikan dia yang seorang budak. Allah yang memedulikan Abraham, Sara dan Hagar juga peduli pada setiap kita. Allah kita adalah Allah yang mengerti dan peduli. Jika kita tidak merasakan kepedulian-Nya, mungkin karena kita hanya fokus pada masalah yang kita hadapi. Padahal, dalam badai yang kita hadapi, ada Allah yang sanggup menenangkan badai. 

***

Hagar taat pada Tuhan dan kembali kepada Sara, meskipun pada akhirnya diusir oleh Abraham atas permintaan Sara. Menyedihkan sekali. Namun, sekali lagi Allah menunjukkan kepedulian-Nya. Saat Hagar putus asa akan nasibnya dan anaknya, Allah mendengar seruan dan tangisnya. Allah tidak melupakannya! 

Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
(Kejadian 21:16-17)

Ayat ini benar-benar mengingatkan bahwa sebenarnya tidak ada yang perlu Hagar dan kita susahkan. Saat kita merasa susah hati atas keadaan kita, sebenarnya kita sedang meragukan kepedulian Allah. Kita lupa kalau Allah sanggup memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19).

***

Hagar telah menerima penghiburan dan janji Tuhan. Hagar adalah saksi kalau Allah sungguh mendengar dan peduli pada kita. Walaupun Hagar tidak selalu benar di hadapan Allah namun Allah tidak pernah berhenti menunjukkan kesetiaan-Nya. Allah tidak hanya menyertai Hagar, tapi juga Ismael, hingga ia dewasa (Kejadian 25:16). Allah benar-benar memenuhi janji-Nya pada Hagar! Ketidaksetiaan Hagar dan Ismael tidak membatalkan janji-Nya. Dia pernah berkata akan membuat Ismael menjadi bangsa yang besar dan Ia setia pada janji-Nya itu. 

Hagar mengingatkan kita untuk tidak kuatir dalam menjalani hidup ini karena masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang (Amsal 23:18). Allah selalu memegang janji-Nya. Dapatkah kita tetap hidup dalam ketaatan dan takut akan Dia?

ditulis untuk Majalah Pearl

No comments:

Sacred Marriage (Chapter 12)

Pernikahan dapat menjadi sarana yang indah untuk melihat kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana sebuah sarana gak mendata...