.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Tuesday, March 12, 2019

Sacred Marriage (Chapter 6)


Salah satu hadiah pernikahan terbaik yang diberikan Tuhan kepadamu adalah sebuah cermin berukuran satu badan yang bernama pasangan hidup. Jika ada kartu yang terlampir bersamanya,  di dalamnya akan tertulis, "Ini untuk membantumu melihat bagaimana rupamu sesungguhnya!"
Gary anda Betsy Ricucci

Pernikahan telah memberi saya sebuah cermin yang memperlihatkan dosa-sosa saya. Pernikahan membuat saya harus melihat diri saya secara jujur dan memperhatikan kelemahan karakter saya, keegoisan saya, dan sikap-sikap lainnya yang tidak kristiani. Pernikahan akan mendorong saya menyerahkan diri untuk dikuduskan dan dimurnikan,  serta mendorong saya bertumbuh dalam takut akan Tuhan.
Kalau ada yang paling tahu busuk-busuknya aku ya suamiku. Dan benar, pernikahan mengungkap banyak hal yang aku gak sadari sebelumnya. Dulu aku merasa sebagai orang yang sabar, bisa mengendalikan diri, pemaaf,  gak pemarah, dll yang baek-baek. Ternyata pas dah merit, aku baru nyadar kalau aku gak sesabar yang aku kira. Aku juga bukan orang yang mudah menerima teguran.  Aku pemalas. Dan masih banyak lagi dosa-dosaku.



Aku suka bagaimana Gary Thomas menceritakan tentang dia meributkan istrinya yang gak mengisi tempat es batu setelah memakai. Dia bilang ke istrinya hanya butuh 7 detik untuk mengisinya lagi dan dia sadar betapa egoisnya dia membiarkan kerepotan 7 detik itu berpotensi merusak pernikahannya. Suamiku juga tipe yang rapi gitu, jadi aku bisa bayangkan dia mengomeliku karena masalah 'gak penting' seperti itu. Lalu sewaktu aku mengingat-ingat, ternyata aku sama aja. Seringkali aku juga kayak gitu, mengomel karena suami aku anggap lambat bersiap-siap sewaktu kami mau pergi dan merusak sepanjang hari karena omelanku (padahal mau berangkat ke Gereja lo itu). Padahal kalau aku mau bersabar dan berdiam, toh aku gak akan kehilangan apa-apa, paling beberapa menit.

Kita harus berdisiplin membuka diri agar kelemahan-kelemahan kita diketahui oleh pasangan kita, dan dengan demikian juga dapat dilihat jelas oleh kita sendiri.Dosa tidak pernah tampak terlalu buruk jika hanya diketahui oleh kita saja.
Bagian ini membuatku merenung:Apakah ada dosa yang masih aku sembunyikan dari pasangan?
Terkadang mengakui ini sulit banget.Gak diakui aja sudah banyak kelemahanku, kalau diakui gimana respon pasangan ya? Tapi ada dikatakan saling mengaku dosa supaya sembuh. Bagaimana aku bisa dimurnikan kalau aku gak mau mengakui kelemahan dan dosa-dosaku? Ok, aku terpikirkan satu hal yang mau aku akui sama suamiku.

Ketika dosa anda tersingkap, pakailah kesempatan itu sebagai sarana bertumbuh dalam salah satu karakter kristiani yang mendasar, yaitu kerendahan hati yang akan menuntun anda mengakui dosa-dosa anda dan menolak untuk mengulanginya lagi.
Banyak banget kelemahan-kelemahan karakterku diungkap suamiku pas sudah merit. Lol. Suami bukan tipe yang diam kalau ada yang gak sesuai, pasti ditegur. Dan responku waktu ditegur awalnya gak ngenakin, aku defense dan bilang aku gak merasa gitu (ya kaleee... Kalau menurut perasaan sendiri ma aku gak pernah salah. Lol). Kalau diingat-ingat aku banyak berespon salah waktu ditegur :
- ngambek dan diemin suami
- gak ngambek (masih biasa ngobrol) tapi dalam hati gak terima
- nangis tapi gak berubah, masih ngulang-ngulang kesalahan
- balik 'nyerang'  suami dan bilang lah kamu juga masih gini-gono
Responku waktu ditegur gak benar.
Bagaimana berespon benar waktu ditegur?
👉 Minta maaf
👉 Bilang makasih karena ditegur
👉 Dengan rendah hati mengakui kesalahan
👉 Berubah melakukan yang benar

Bagaimana saya memperlakukan pasangan hidup saya ketika dosanya terungkap. Apakah saya akan menggunakan pengetahuan ini untuk menghancurkannya,  menguasainya atau saya menggunakannya untuk dengan lemah lembut dan penuh kasih menuntunnya mengikuti teladan Kristus?
Jeder! Teringat prinsip ini :
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu,  perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Matius 7:12
Saat suamiku tahu dosa dan kelemahanku, aku ingin dia melakukan apa?
🌸  Aku ingin tetap dikasihi dan diterima apa adanya
🌸 Aku ingin ditegur dengan lembut (tanpa omelan, sindiran dan sarkasme)
🌸  Aku ingin dia gak mengulang-ulang mengatakan kesalahanku
🌸  Aku gak ingin dengar dia bilang "Kamu gak pernah berubah"  atau "Kamu selalu begitu".
Nah Meg, lakukanlah itu terlebih dahulu ke suami! 

Membiarkan pasangan kita mengungkapkan dosa-dosa kita dan sebaliknya menjadi lampu sorot bagi pasangan agar ia menyadari dosa-dosanya adalah sebuah disiplin yang sulit.
Muncul pertanyaan dalam hati :
Siapkah aku menerima suami dengan segala dosa dan kelemahan-kelemahannya, bahkan jika dia gak berubah?
Pertanyaan sulit awalnya sampai aku membaliknya.
Bagaimana kalau aku mengungkapkan semua dosa dan kelemahanku lalu gak juga berubah?
Aku masih ingin diterima oleh suami. Betapa egoisnya ya? Aku belajar tentang penerimaan di sini.  Dan mensupport dengan lemah lembut.

Respon yang dewasa adalah tidak meninggalkan pernikahan itu, tetapi berusaha mengubah diri kita.
Ini powerful dan jelas banget!
Aku harus berusaha mengubah diri karena aku gak bisa mengubah suami. Satu-satunya yang bisa aku ubah ya diriku sendiri.

Palangka Raya, 12 Maret 2019
-Mega Menulis-

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, silakan tinggalkan komentar ya.

2 Tawarikh 11-12

2 Tawarikh 11 Scripture        2 Tawarikh 11:23 (TB)  Oleh sebab itu ia mengambil kebijaksanaan untuk menyebarkan semua anaknya yang lain ke...