.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Saturday, March 23, 2019

Sacred Marriage (Chapter 7)

Ada satu karakteristik yang membuat riwayat hubungan Tuhan dan bangsa Israel bertahan, yaitu : kesetiaan atau ketekunan (perseverance).
Sebagaimana kesetiaan teruji oleh waktu, ketekunan juga. Melalui masa yang panjang, kita bisa melihat bagaimana Tuhan setia pada Israel yang tidak setia. Tuhan TETAP mengasihi Israel dalam segala waktu, saat dikecewakan, saat ditinggalkan, saat ditolak, bahkan saat marah pun Dia tetap menunjukkan kasihNya. Bagaimana dengan aku? Aku menganggap diriku setia, karena aku merasa gak ada pikiran untuk selingkuh atau memikirkan pria lain selain suami. Tapi tekun? Tekun mengasihi? Sepertinya nggak. Ada saat rasanya aku gak mengasihi suamiku, saat dikecewakan, saat aku gak mendapatkan yang aku inginkan, saat marah, dll. Aku gak tekun mengasihi. Bagaimana aku tahu aku sedang gak mengasihi? Aku mulai gak bersabar, gak lagi murah hati ingin memberikan yang terbaik, mulai menyimpan kesalahan suami. Duh.  Ayat di bawah ini benar-benar jadi reminder untuk fokus pada kasih Allah dan teladanNya. Belajar setia dari Dia yang setia. Meneladani ketekunanNya dalam mengasihi. 
2 Tesalonika 3:5 (TB)  Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.


Hari ini anda dapat mengukur kualitas pernikahan dengan kesetiaan atau ketekunan - upaya memelihara sebuah hubungan jangka panjang.
Sejujurnya aku bukan orang yang pintar memelihara, kaktus aja mati di tanganku. Kebayang kan parahnya aku? Tanaman yang katanya paling gampang diurus aja bisa mati. Sampai sekarang aku gak tahu sebabnya, tapi seorang teman pernah bilang kemungkinan karena aku terlalu banyak memberi air sehingga akarnya busuk. Bagaimana aku memelihara pernikahanku kalau aku gak tahu caranya, aku harus mengenali apa yang kami (aku dan suami) perlukan agar pernikahan kami bertumbuh. Seperti setiap tanaman berbeda perlakuannya maka pernikahan tiap orang berbeda detail memeliharanya (ya iya lah, melibatkan pasangan yang berbeda). Buat pasangan lain,mungkin ada yang harus ekstra lemah lembut dalam berkata-kata untuk memelihara pernikahannya. Buatku? Aku harus tekun mengendalikan diri saat ini. Awal-awal dikasih tahu suami aku butuh pengendalian diri aku gak terima tapi mencoba lebih mengendalikan diri. Lama kelamaan karena gak tekun, balik lagi ke habit awal. Ketidakmampuanku mengendalikan diri berpotensi merusak hubungan kami, aku harus terus berlatih dan berusaha lagi.

Yang dicari oleh Tuhan adalah "hidup kudus"  yang dijalani dengan tekun,  sebuah komitmen untuk senantiasa memilih keputusan yang benar,  meskipun anda berulang kali merasa ditarik ke arah yang berlawanan.
Berkali-kali aku gagal dalam kekudusan : berkata kasar, gak bisa mengendalikan diri, berpikiran negatif, dll.  Aku harus berjuang hidup kudus. Bukan lagi kadang kudus, kadang kudis. Saat aku berkomitmen melakukan yang benar, gak boleh cuma semangat di depan lalu makin ke belakang makin kendor (aku banget).Harus ada perubahan hidup ke arah yang lebih baik setiap harinya.

Apakah yang menyebabkan kita mengakhiri pernikahan kita? Beberapa dari kita menyerah "dalam masa pencobaan" (Lukas 8:13). Kita berpikir bahwa kehidupan pernikahan itu mudah, saat pernikahan menjadi sulit, kita lalu keluar. Mereka yang lain menyerah ketika terhimpit oleh "kekuatiran hidup" (Lukas 8:14).
Ada perasaan "ini bukan untukku" waktu membaca bagian ini. Lalu aku diingatkan, aku gak tahu masa depan. Siapa yang tahu kalau suatu saat pernikahan kami dalam masa pencobaan atau suatu hari kekuatiran membuat kami menyerah. Reminder buat kami untuk terus berjaga-jaga dan berdoa.

Komitmen untuk bertekun ini mengajarkan kita disiplin kristiani yang mendasar, yaitu penyangkalan diri. Ini berarti kita harus menolak sikap-sikap yang mencari "kepentingan diri sendiri".
Ini akar dari masalah dalam bertekun, penyangkalan diri. Menyangkal diri sendiri itu sulit karena aku mencari kepentingan diri sendiri. Aku egois. Jeder! Aku marah karena keinginanku gak dipenuhi. Aku susah berkata lembut saat aku merasa aku pun dikasari. Aku gak mau melayani saat aku merasa gak dikasihi. Semua karena AKU dan AKU. Waktu aku fokus ke diri sendiri, mana mungkin aku menyangkal diri. Jadi teringat Chapter 2 Sacred Marriage yang bilang tujuan pertama pernikahan adalah menyenangkan hati Tuhan jadi aku harus berkorban dan gak memikirkan kepentingan diri sendiri. Terus bertanya, "Apa yang membuat Tuhan senang?"  bukan "Apa yang membuatku senang?" Sulit sekali tapi bisa. Semangat Meg!

Setiap orang yang sudah menikah, berapa pun usia pernikahannya, pastilah mengerti betapa pernikahan bisa menjadi sangat sulit.
Yes, pernikahan itu sulit. Nah,  kalau pernikahan aja sudah sulit, tambahkan lagi kalau dijalani bersama orang yang sulit. Tuing-tuing. Tapiii... Saat pasangan menjadi sulit, ingat aja Meg:Makin sulit pasangan, makin besar kesempatan untuk bertumbuh. Saat pasangan menjadi sulit atau pernikahan dalam masa sulit. Aku bisa memilih: mau self-pity, marah, dan melakukan respon yang tidak benar. Atau menjadikan ini saranaku bertumbuh.

Ketika Leslie berlaku setia kepada suaminya yang tidak setia, ia sedang menunjukkan kebenaran tentang Tuhan yang tetap setia kepada umatNya tidak setia.
Cerita tentang Leslie ini sangat menyentuh. Pernikahan bisa menjadi sarana bagi orang lain menyaksikan kasih Tuhan saat kita berespon dengan benar dan semakin mendekat kepada Tuhan.

Kita selalu melihat kesalahan pasangan kita, tetapi Tuhan ingin kita membereskan hati kita terlebih dahulu.
Jleb. Jleb. Jleb. Kalau aku selalu merasa benar dalam hubungan pernikahanku, berarti ada yang salah dengan diriku. Harus dengan rendah hati menerima teguran dan mengakui kesalahan sebelum menuding orang lain yang selalu salah. Berespon dewasa Mega, ubahlah dirimu! Kamu gak bertanggung jawab dengan perubahan suami.

Jika kita serius dengan keinginan untuk bertumbuh secara rohani, jangan bertanya, "Apakah aku menikah dengan orang yang 'tepat'?" Begitu menikah, tidak ada gunanya memikirkan pertanyaan itu berulang.
Reminder. Jangan pernah bertanya atau memikirkan itu Meg. Bersyukur selalu!

Palangka Raya, 23 Maret 2019
-Mega Menulis-

No comments:

Mikha 2 & Mikha 3

Mikha 2 Scripture        Mikha 2:6 (TB)  "Janganlah ucapkan nubuat," kata mereka itu, "orang tidak mengucapkan nubuat sepe...