.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Monday, March 4, 2019

Sehati Sepikir dan Penundukan Diri

"Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!"
(Roma 12:16 / TB)

Sewaktu membaca kalimat ‘sehati sepikir dalam hidupmu bersama’, aku langsung memikirkan suamiku. Memang, sebenarnya konteks dan latar belakang ayat ini bukan membicarakan hubungan suami istri, tapi bagiku ayat ini menjadi rhema khusus untuk diaplikasikan dalam hubungan dengan suami. 


Selama tiga tahun menikah, aku tidak selalu sehati sepikir dengan suami. Sering sekali aku ingin suami mengerti isi hati dan pikiranku. Saat kami tidak sepemikiran, kadang aku menganggap pikiranku lebih baik. Padahal, dalam hidup kami bersama, seharusnya aku melakukan seperti ayat tadi. Memang aku merasa seharusnya suamiku juga mendapatkan rhema yang sama, supaya dia juga berusaha sehati sepikir denganku dan tidak merasa paling benar. Tapi, lagi-lagi aku ingat, Tuhan memerintahkan aku tunduk pada suamiku. 

Firman Tuhan berkata begini:

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
(Efesus 4:22-23)

Masalahnya, bagaimana bisa tunduk saat aku tidak setuju dengan suami? Kalau pendapat suami bertentangan dengan Firman Tuhan, pasti lebih mudah meresponinya. Tapi bagaimana dengan perkara yang tidak spesifik disebutkan dalam Alkitab? Apakah harus tetap tunduk? 

Kalau sedang bingung seperti ini, ketiga hal yang disebutkan dalam Roma 12:16 menolongku memberi respon yang benar, yaitu berusaha sehati sepikir dalam hidup bersama, mengarahkan diri kepada perkara-perkara sederhana dan tidak menganggap diri sendiri pandai. 


// SEHATI SEPIKIR

Meskipun awalnya kami tidak mungkin sehati sepikir dalam segala hal, tentunya kami bisa berusaha mengerti isi hati dan pikiran pasangan. Aku belajar mendengarkan lebih dulu, banyak mendengar daripada berbicara, berempati supaya mengerti maksud suami, dan tidak ngotot harus dituruti. Lalu saat suami sudah memutuskan, aku tunduk. Aku harus sudah sehati sepikir dengannya waktu perkara sudah diputuskan. Aku harus melakukan keputusan tersebut dengan sukarela dan senang hati, bukan dengan sungut-sungut. Aku harus berdoa supaya keputusan ini mendatangkan berkat bagi kami, bukannya berharap keputusan suami terbukti salah dan pendapatku yang benar. Aku harus tetap bersikap manis ke suami dan respect apapun yang terjadi, bahkan saat tidak sependapat. Kalau pun keputusan suami salah, tidak boleh bersukacita atasnya dan berkata, "Tuh kan, benar kan yang kubilang?"

Saat kita tidak memiliki pertimbangan yang serupa memang menyulitkan. Tapi di situlah tantangannya: apakah kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan suami. Menundukkan diri kepada suami kadang berarti menekan ego kita sendiri. Tapi semua itu adalah proses yang akan membentuk dan menguduskan karakter kita. Marriage life is sanctifying. 


// MENGARAHKAN DIRI PADA PERKARA YANG SEDERHANA

Saat konflik terjadi karena aku dan suami tidak sepemikiran, aku perlu fokus memikirkan perkara yang sederhana: kalau aku mengasihi suami, aku harus tunduk padanya. Adu otot leher tidak akan menghasilkan apa-apa. Berdebat dan bertengkar cuma menghasilkan perpecahan. Fokus pada hal sederhana, yakni mengasihi suami, yang juga berarti tunduk padanya.

Pernah suami menyuruhku melakukan sesuatu, disaat aku ingin melakukan hal lain. Di pikiranku, nanti-nanti kan bisa, kenapa harus sekarang? Mulutku sudah ingin sekali membantah, tapi aku menahan diri. Sudahlah, tunduk saja, toh aku tidak kehilangan apa-apa. Kelihatannya sederhana, tapi tidak mudah. Inilah yang dinamakan pursue peace in relationship. Sampai saat ini aku masih terus berlatih untuk bisa taat sama suami segera saat itu juga. Kalau sudah terasa berat, aku ingat kalau anak-anakku akan belajar taat dari orang tuanya. Aku harus jadi teladan.

Lalu, saat aku melakukan perintah suami dengan segera, ternyata aku juga sedang berlatih melakukan perintah Tuhan dengan segera. Bagaimana aku mau taat sama Tuhan yang gak terlihat kalau sama suami yang terlihat saja aku tidak bisa taat? Aslinya, aku egois, sering hitung-hitungan dengan suami. Untuk benar-benar taat aku perlu lebih banyak latihan. 


// TIDAK MENGANGGAP DIRI PANDAI

Sederhananya begini: Jangan "menggurui" saat bicara dengan suami. It can hurt his “pride". Sering sekali aku merasa lebih tahu, tapi aku belajar terus ingat kalau suamiku adalah kepala atas keluarga kami dan aku leher yang mendukung kepala tetap tegak. Aku tidak perlu memikirkan bagaimana caranya supaya pendapat dan pemikiranku diterima, tapi bagaimana supaya pemikiran dan pendapatku memperkaya suami dan dia bisa mengambil keputusan terbaik sesuai yang Tuhan mau.

Salah satu sahabat rohaniku, Ci Lia, pernah membagikan pemikiran mentornya yang bernama John. John berpendapat begini:
“Struktur gereja sebenarnya mirip dengan struktur keluarga. Pria memegang kepemimpinan sebagai pelindung dan penyedia, sementara wanita berada dibawah otoritas mereka. Keduanya berada dalam posisi yang berbeda tapi sama penting dan bernilai. Di rumah, istri boleh berbicara bebas namun tetap penuh penghormatan pada suami. Istri berhak tetap menjadi dirinya sendiri dan berpikir untuk dirinya. Jika suami dan istri berbeda pendapat dan tidak bisa sepakat, istri sebaiknya mengikuti keputusan suami karena bagaimanapun keteraturan tetap harus ada.”

Penundukan diri membutuhkan kerendahan hati. Tanpa hati yang rela dipimpin, tunduk menjadi sebuah keterpaksaan. Penundukan diri seorang istri, akan menolong suami bertumbuh dan berfungsi sebagaimana yang Tuhan inginkan yaitu menjadi kepala atas rumah tangga. 

Beberapa waktu yang lalu, aku menerima sebuah tantangan untuk berdoa setiap hari buat suami dan bilang terima kasih ke suami setiap hari. Pokoknya, aku harus menemukan setidaknya satu hal yang bisa disyukuri tentang dia. Apa saja, boleh berupa hal yang dia lakukan, atau karakternya yang disukai. Kalau tidak ada, maka istri harus melakukan sesuatu yang menunjukkan respek dan kasih ke suami. Tantangan ini memberikan aku banyak pengalaman berharga, khususnya tentang menjadi sehati sepikir dengan suami. 

Aku mengundang kalian mengalami sendiri hal tersebut. Kalian akan menemukan kalau suami yang kalian nikahi adalah pria yang luar biasa. Kalian juga akan terkejut melihat betapa banyak sebenarnya yang suami sudah lakukan dan kalian tidak menyadarinya. Kalian tidak akan menyangka kalau kalian bisa bersikap begitu manis kepada suami. Bayangkan betapa banyak yang Tuhan sanggup kerjakan di dalam kalian saat kalian, para istri, memutuskan untuk mendoakan suami setiap hari. Ada proses yang tidak mudah dijalani, tapi hasilnya sepadan dengan perjuangan yang dilakukan.

Ditulis untuk Majalah Pearl.

No comments:

Mikha 2 & Mikha 3

Mikha 2 Scripture        Mikha 2:6 (TB)  "Janganlah ucapkan nubuat," kata mereka itu, "orang tidak mengucapkan nubuat sepe...