.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Sunday, May 12, 2019

Sacred Marriage (Chapter 9)


Lawan dari kasih bukanlah kebencian, tetapi ketidakpedulian.
Sudah menikah terus benci sama suami sendiri? Puji Tuhan, aku gak pernah. Tapi gak peduli? Dengan berat hati aku harus mengakui kalau pernah. Masih malah. Ada kalanya aku gak peduli suami sudah makan atau belum, yang penting anak sudah makan. Sering aku gak peduli suami sudah minum kopi atau ngga tiap hari, padahal aku tahu dia suka minum kopi. Kadang aku memutuskan sesuatu yang aku tahu beda dengan pendapat suami, yang berarti aku gak peduli dengan pendapat suami. SIGH. Padahal harusnya kalau aku mengasihi suami, aku peduli dengannya, memperhatikan pendapatnya, kebiasaannya, kesukaannya dan perasaannya. Sudah seminggu yang lalu aku baca bab ini tapi belum menulis refleksinya. Hari ini dong, aku memutuskan sesuatu yang beda dengan pendapat suami padahal suami bilang A, aku lakukan B. Teringat untuk lebih mempedulikan pendapat suami, akhirnya aku memutuskan mengikuti perkataan suami. Aku ubah  keputusanku. Dan berasa damai sejahtera.


Banyak pria tidak menyadari besarnya luka yang telah mereka goreskan dalam hati pasangan mereka hanya dengan tidak berkata apa-apa.
Bahasa kasih suami sudah jelas bukan kata-kata. Dan aku sibuk memikirkan, harusnya suami baca bagian ini, dan insyaf kalau suami perlu berkata-kata manis dengan istrinya ini. LOL. Tapi aku lalu sadar,bagianku adalah mengkomunikasikan dengan suami. Kalau sudah dikomunikasikan dan suami belum sadar, bagianku adalah bersabar dan berusaha mengerti  Dari dulu suami memang bukan orang yang suka bermanis-manis kata. Selalu to the point. Bersyukur buat kejujurannya.

Kita harus memilih untuk mengalah, mati terhadap diri sendiri, dan sebaliknya, tidak bermegah diri ketika yang akhirnya mengalah adalah pasangan kita.
Seringnya ngerasa diri sendiri yang sudah banyak mengalah. Padahal, jangan-jangan suamiku juga merasa demikian. Nah lho. Gimana dong? Tapi, sekarang aku benar-benar belajar untuk lebih "mati terhadap diri sendiri". Dulu kalau suami ngomong nada C, aku balas nada D dong. Atau dia nada G aku ambil nada A dong. Sekarang? Berusaha nyamain nada bahkan turunin nada. Kalau gak bisa, better diam. Masih sering gagal. Tapi bener-bener berusaha.

Tindakan orang lain tidak bisa mendikte respons kita.
Aku mau memilih berespons yang benar saat suami menyakitiku. Aku mau belajar berespons yang benar. Bersikap baik dan lemah lembut waktu lagi kesel tu susah. Jangankan itu, bisa ngomong sama suami dan lihat mukanya waktu marah aja perjuangan banget. Jauh lebih mudah nyuekin suami. Itu biasanya responsku kalau suami bikin kesel. Sekarang aku berusaha ngomong baik-baik. Pernah suatu kali aku kesel banget sama suami dan pengen nyuekin tapi aku lawan perasaan itu, pas mau tidur aku tidur deketin suami dan peluk dia (padahal lagi kesel), suami peluk aku, kami tidur peluk-pelukan dan ilang lo keselku. Hahahaha. Motion change emotion ternyata.

Pengampunan merupakan disiplin rohani yang harus ada dalam pernikahan.
Kenapa pengampunan harus ada dalam pernikahanku? Karena aku dan suami manusia, sama-sama gak sempurna, sama-sama bisa jatuh, sama-sama bisa berbuat salah, sama-sama bisa menyakiti. Kalau gak ada pengampunan, bisa bubar jalan pernikahan kami. Pengampunan gak bisa pake batasan ternyata. Harus terus-menerus mengampuni dengan kesadaran kalau suami bisa saja mengulangi kesalahannya. Gak bisa mikir gini, "Oke, kali ini aku ampuni, besok-besok kalau diulangi, awas ya!" Gak bisa gitu. Sebagaimana aku mau diampuni tanpa syarat saat berbuat kesalahan, itu juga yang harus aku lakukan ke suami. Kalau sulit mengampuni suami, aku perlu ingat kalau Tuhan selalu mengampuniku dan Dia mau aku mengampuni orang lain. Lagipula, aku dapat pencerahan, aku dan suami adalah satu. Gak mengampuni suami berarti gak mengampuni diri sendiri. Gak peduli sama suami berarti gak peduli diriku sendiri. Selain pengampunan, hal lain yang penting adalah penerimaan. Saat suami gak bisa berubah, aku perlu belajar menerima. Belajar mengasihi tanpa syarat.

Palangka Raya, 12 Mei 2019
-Mega Menulis-

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, silakan tinggalkan komentar ya.

2 Tawarikh 17-18

2 Tawarikh 17 Scripture        2 Tawarikh 17:3-4 (TB)  Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, b...