.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Tuesday, October 1, 2019

Sacred Influence (Chapter 6)

Sacred Influence
Chapter 6

... menolong berarti Anda memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang yang anda tolong. Jika anda tidak mau mempertimbangkan diri sebagai penolong suami, maka pernikahan akan terasa penuh derita, karena sesungguhnya itulah cara Tuhan merancangkan pernikahan agar dapat berjalan dengan baik.
Aku jadi teringat saat-saat aku merasa pernikahanku penuh derita, biasanya sih waktu kami bertengkar. Penyebab pertengkaran bisa jadi karena saat aku berdebat dan dikatain suami, waktu aku meragukan keputusan suami dan gak setuju dengan keputusannya, waktu suami gak peduli dengan keinginanku, waktu suami merasa aku gak menghargainya. Sekarang berandai-andai, kalau aku sungguh-sungguh mengambil peran sebagai penolong, apa yang seharusnya aku lakukan? Seharusnya aku support keputusan suami walaupun awalnya gak setuju. Seharusnya aku mengkomunikasikan keinginanku ke suami dengan baik, kalau suami gak mau, aku gak menolong dengan ngambek atau nyinyir,harusnya tetap bersikap manis. Aku menolong suami saat aku tunduk dan menghargai keputusannya dengan cara melakukan tanpa mengeluh. Sepertinya kalau aku berbuat demikian, kami gak akan bertengkar dan aku gak akan merasa menderita.

Perhatikan... Kita diciptakan untuk menjadi penolong suami kita, bukan ibu untuk anak-anak kita. Carolyn Mahaney.
Reminder banget ini. Sejak punya anak memang kebutuhan suami jadi perhatian yang kesekian,yang utama malahan anak. Seringkali keinginan dan kebutuhan suami kalah dengan kebutuhan anak.

Bagaimana saya dapat menolong suami saya hari ini?
Ini mulai jadi doa dan perenunganku. Mulai belajar tanya Tuhan di setiap kesempatan dan segera lakukan. Aku gak boleh menunda-nunda dan melewatkan kesempatan menolong dan bsrbuat baik ke suami. Tadi malam aku berdoa gitu ke Tuhan waktu suami sedang menonton film (me timenya suami emang gitu sekarang). Biasanya kalau bocah-bocah udah mau tidur, aku minta suami matikan filmnya dan tidur juga. Anak-anak susah tidur kalau kami semua gak di tempat tidur. Nah, tadi malam, aku biarkan suami menonton dengan tenang dan aku bujuk anak-anak tidur bertiga. Capek sih, harus main dan ngobrol dulu sebelum tidur, padahal aku dah capek banget. Tapi ternyata menyenangkan dan kami tertidur bertiga. Mungkin baru hal yang simple untuk menolong suami tapi aku mau jadikan ini kebiasaan.

Pria pada umumnya tidak tergerak oleh kekuasaan atau kritik oleh seorang istrinya yang tidak menghargainya. Ia tergerak oleh seorang istri yang membiarkannya memimpin dan kemudian menolongnya ke mana pun ia pergi.
Lebih mudah rasanya mengkritik suami dibandingkan menolong. Tapi aku harus ingat juga kalau kritikanku gak menolong suami. Tuhan ingin aku menolong suami,ini panggilanku sebagai isteri. Aku gak dipanggil Tuhan untuk mengkritik suami dengan cara yang tidak menghargainya, menentang keputusannya atau berusaha agar suami melakukan yang aku inginkan. Tuhan ingin aku menolong suamiku. Titik.

Palangka Raya, 1 Oktober 2019
-Mega Menulis-

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, silakan tinggalkan komentar ya.

2 Tawarikh 9-10

2 Tawarikh 9 Scripture        2 Tawarikh 9:23 (TB)  Semua raja di bumi berikhtiar menghadap Salomo untuk menyaksikan hikmat yang telah ditar...