.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.
google.com, pub-1767695080484840, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tuesday, March 9, 2021

Atomic Habits (Bab 2)


Mengubah kebiasaan menjadi sulit karena:

1. Salah sasaran

2. Cara keliru

Bab ini membahas tentang poin salah sasaran yang menyebabkan kebiasaan sulit diubah. Ternyata salah sasaran bukan hanya berbicara tentang sasaran yang terlalu tinggi alias gak masuk akal. Ternyata ada beberapa sasaran. Secara umum ada tiga tingkat perubahan, dan seringnya seseorang mengubah sesuatu tapi salah, akibatnya perubahan itu tidak bertahan lama. 


Tiga tingkat perubahan :

1. Perubahan hasil - Terkait dengan sasaran/target yang ingin dicapai. 

2. Perubahan proses - Terkait dengan mengubah kebiasaan dan sistem. 

3. Perubahan identitas - Terkait dengan mengubah keyakinan atau citra diri. 


Mengubah kebiasaan itu sulit jika anda tidak pernah mengubah keyakinan yang mengantar ke perilaku lama. Anda mempunyai sasaran dan rencana baru, tetapi anda tidak mengubah siapa anda. 

Apa yang saya yakini akan menentukan keberhasilan saya mengubah diri saya. Bagaimana saya memandang diri saya sangat penting. Contohnya, sesuai pengalaman pribadi,saya baru saja mengikuti challange berjalan setiap hari selama 30 hari. Targetnya adalah berjalan 10.000 langkah setiap hari. Saya menerima tantangan ini karena ingin memulai kebiasaan hidup sehat. Saya sudah berencana bangun pagi-pagi sekali dan mulai berjalan, menggunakan aplikasi penghitung langkah memberikan semangat tersendiri. Kemarin tepat 30 hari saya berjalan setiap hari. Apakah saya berhasil? Ya, saya berhasil berjalan 30 hari berturut-turut tapi tidak mencapai 10.000 langkah setiap hari (kadang sampai, kadang nggak). Waktu saya evaluasi, saya dapati, memang keyakinan saya mempengaruhi pencapaian saya. Dari awal saya sudah berpikir : 

Ah, saya memang gak suka olahraga wajar saja kalau gagal. 

Sepuluh ribu langkah itu setara 7 km, wajar saja kalau saya gak berhasil jalan sebanyak itu. 

Aku pasti bisalah kalau cuma jalan setiap hari, aku berkomitmen kok orangnya, asal niat pasti bisa. 

Hasilnya memang sesuai keyakinan saya. Saya berhasil jalan setiap hari, tapi tidak mencapai 10.000 langkah setiap hari. 

Beberapa hari ini saya juga berusaha mengubah keyakinan saya saat anak berperilaku sulit dengan berkata: Anak saya anak yang taat kok, dia cuma belum bisa mengendalikan kehendaknya. Saya bisa membantunya. 

Sewaktu dia gak mau makan apa yang gak disukainya sekarang dengan yakin saya bisa berkata, "Ya, mama tau kamu gak suka, tapi kamu harus makan, karena ini membuat kamu sehat". Apakah anaknya makan?   Mau, pada akhirnya. Sudah beberapa hari ini urusan makan gak penuh drama. Ada sih penentangan tapi akhirnya dia mau. Anakku siap taat kok. 



Membangun kebiasaan berbasis identitas akan membuat kita mulai berfokus pada kita ingin menjadi sosok seperti apa. Fokus pada sosok yang ingin saya menjadi. 

Identitas yang ingin saya bangun sekarang adalah saya mama yang punya otoritas dan terus bertumbuh karena mengasihi anak-anak. Bagaimana supaya bisa mewujudkannya? Saya sekarang berusaha kalem, tenang, tegas dan konsisten menegakkan aturan di rumah. Saya terus belajar dan bertumbuh supaya bisa mengiring pertumbuhan anak-anak. 


Perubahan perilaku yang sejati adalah perubahan identitas. 

Perubahan identitas seharusnya mengubah cara pandang, keputusan dan tindakan yang diambil seseorang. Inilah mengapa perubahan identitas bertahan dibandingkan perubahan hasil atau proses. Seorang pemalas dan orang yang rajin tentu berbeda perilakunya. Setelah memutuskan identitas yang saya inginkan melekat pada saya, saya akan dapat berpikir apa yang dilakukan orang dengan identitas demikian dan melakukannya.  SELALU. Setiap keputusan dan tindakan akan didasarkan pada identitas orang tersebut. Apakah orang yang memiliki gaya hidup sehat akan malas berolahraga, suka makan gorengan, Indomie, dan makanan berlemak Meg? Ini ma menampar diri sendiri 😂


Kebiasaan anda membentuk identitas anda, identitas akan membentuk kebiasaan anda. Yang harus difokuskan adalah menjadi tipe orang bukan hasilnya sendiri. 

Mana yang benar? Kebiasaan membentuk identitas atau sebaliknya sih? Keduanya membentuk lingkaran. Seseorang beridentitas tertentu memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, sama dengan halnya kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadikan seseorang memililiki identitas tertentu. Seorang penyabar tidak mudah tersulut emosinya, nada bicaranya rendah, tenang menghadapi ledakan emosi orang lain, berespon kalem. Apakah saat seseorang terus menggunakan nada tinggi saat tersulut emosinya dikatakan sabar? Tentu tidak. 


Kata identitas awalnya diturunkan dari kata Latin essentitas (ada) dan identidem (berulang). Secara harafiah berarti "ada yang diulang". 

Perulangan tindakan (kebiasaan) seseorang akan menentukan identitasnya. Hati-hati dengan kebiasaan yang melekat pada diri kita, itulah yang menjadi identitas kita. 


Kebiasaan adalah jalur untuk mengubah identitas anda. Cara paling praktis untuk mengubah siapa anda adalah mengubah apa yang anda lakukan. 



Kebiasaan-kebiasaan kecil dapat membuat perbedaan yang bermakna dengan menyediakan bukti untuk identitas baru. Dan bila suatu perubahan bermakna, perubahan itu sungguh besar. 

Start small. Lakukan berulang kali satu kebiasaan baik dan itu akan memberikan kontribusi dalam membentuk identitas baru. Setelah kebiasaan itu menetap. Tambahkan kebiasaan kecil baru yang lain. Jangan tergoda dengan perubahan hasil yang instant. Tentukan perubahan kecil yang ingin kamu lakukan, realistis saja. 


Kebiasaan terkait dengan menjadi seseorang. Kebiasaan penting karena memudahkan anda menjadi tipe orang yang anda inginkan. Kebiasaan menjadi saluran yang mengembangkan keyakinan terdalam tentang diri sendiri. 

Begitu kebiasaan terbentuk maka otomatis akan timbul percaya diri bahwa mampu menjadi seseorang yang dicita-citakan. Tetap lakukan berulang hal-hal kecil dengan kesetiaan yang besar, kemudian kita akan menjadi orang yang kita inginkan.




Palangka Raya, 9 Maret 2021

-Mega Menulis-

No comments:

Kisah Para Rasul 28, Amsal 27

Kisah Para Rasul 28 Scripture        Kisah Para Rasul 28:24 (TB)  Ada yang dapat diyakinkan oleh perkataannya, ada yang tetap tidak percaya....