.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.
google.com, pub-1767695080484840, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Friday, May 21, 2021

Bagaimana Supaya Anak Cepat Bisa Membaca?

Sewaktu melihat anak temanku yang umurnya 4 tahun sudah bisa membaca (dalam bahasa Inggris pula), aku berpikir itu keren banget. Bagaimana ya supaya anak cepat bisa membaca? Ya....ya... , aku tahu kalau seberapa cepat anak membaca gak sepenting dia mencintai literasi dan menikmati membaca berbagai jenis buku. Tapi sejujurnya, di lubuk hatiku juga menginginkan anakku cepat bisa membaca. Kalau bisa keduanya-cepat membaca dan mencintai buku, kenapa nggak kan? Apalagi kalau ingat aku dulu belum berumur 5 tahun sudah lancar membaca, hahaha. Gak sabar rasanya menyodorkan buku-buku bagus ke anak dan saling bercerita tentang buku yang kami baca. Ada potensi jadi tiger mom rupanya aku. LOL.

Kegelisahan ini belum sempat aku sampaikan ke suami, tahu-tahu tadi malam dia bilang gini, "Aku senang lo lihat Sara dan Sofia rebutan buku", dan aku keheranan, "Kenapa? Bukannya berisik ya kalau anak-anak sudah berebutan barang?" Suamiku tertawa dan berkata, "Iya lah, tapi aku gak suka baca buku, eh anakku bisa sampai rebutan buku, apa gak hebat tuh?" Errr... Iya sih ya. Kalau sudut pandangnya seperti itu, apa yang dilakukan anak-anak jadi terlihat menyenangkan. 

Kalau dipikir, taruhlah mereka belum mencintai buku, atau belum bisa membaca. So what? Mereka masih di bawah 5 tahun Meg! Mereka sudah mulai punya ketertarikan sama buku dan punya buku kesukaan yang sama (sampai rebutan)lo. Bisa cepat membaca buat apa? Supaya bisa lebih cepat membaca banyak buku dan mendapat manfaatnya dong. Lah tapi, kalau dalam prosesnya belajar membaca dipaksa, apakah baik? Telur ayam yang menetas dari dalam berbeda dengan yang dipecahkan dari luar, jangan-jangan aku cuma akan merusak proses yang sedang berlangsung. Biarkan kecintaannya pada buku bertumbuh Meg. Jangan merusak prosesnya. 

Atau.... Jangan-jangan kamu ingin dia cepat membaca untuk kebanggaanmu? Hayoooo...! Kasihan sekali kalau dia dipaksa berkembang sebelum waktunya hanya untuk ego mamanya. Mama macam apa yang memaksa anaknya belajar supaya bisa dipamerkan ke orang lain? Kamu mau menjadi mama seperti itu?  

Slow down Meg. Ulangi mantera ajaibnya coba! 
Expect less, stimulate more. 
Expect less, stimulate more.
Expect less, stimulate more.
Fokus pada tujuan sebenarnya! Tujuanmu lebih besar dari sekedar anak bisa membaca. Mau anak mencintai literasi atau sekedar bisa membaca di usia dini? Gak perlu lah kamu membandingkan dengan sekeliling dan merusak kebahagiaan yang ada. Jangan bandingkan dia dengan anak si A, atau bahkan dirimu di usianya. Kalau mau membandingkan, bandingkanlah dia dengan dirinya sendiri sebulan atau dua bulan yang lalu.

Teruslah membersamai anak-anak mengeksplorasi sekelilingnya dengan bahagia. Ingatlah betapa bersemangatnya mereka saat meminta memilih buku bacaannya di lemari buku. Atau bagaimana mereka minta dibacakan buku baru. Betapa lucunya mereka saat berkata mau membaca buku lalu mulai membuka buku dan menceritakan dengan versi mereka. Bahkan saat mereka berteriak berebut buku hingga salah satu berkata, "Gantian ya" atau "Sama-sama ya..." pun bisa jadi momen yang membahagiakan. Kegelisahanku berganti rasa syukur.

Anak pasti bisa membaca asalkan distimulasi. Tapi bagaimana supaya anak mencintai buku? Ada yang berkata, seseorang akan mulai mencintai buku saat bertemu buku yang tepat. Lalu bagaimana supaya mereka bertemu buku yang tepat? Pertemukan dengan aneka buku. Cukupkah? Kurang! Biasakan mereka membaca buku. Baik. Tapi apakah setelah ini mereka akan mencintai buku? Belum tentu! Ngomong-ngomong, apakah kamu orang tua yang mencintai buku? Nggak? Lah, pengen anak suka buku tapi kamu ngga? Oke. Baiklah. Ini mulai gak masuk akal kan? 😁

Lalu harus ngapain lagi? Well, bagaimana pun cinta tidak bisa dipaksakan bukan? Bibit cinta buku sedang ditanam. Aku bisa menanam, menyiram dan melakukan berbagai upaya dengan setia, tapi Allah lah yang memberikan pertumbuhan. This is journey of faith.

Bagaimana kalau tujuanmu gak tercapai Meg? Err.... Berdamailah dengan kenyataan ini hidup anakmu, bisa jadi mereka tidak memerlukan mencintai literasi. Masih mau memaksa? Akakakak.

Palangka Raya, 21 Mei 2021
-Mega Menulis-

No comments:

Roma 10, Amsal 25

Roma 10 Scripture Roma 10:17 (TB)  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.  Observation Apa yang aku dengar...