.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.
google.com, pub-1767695080484840, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sunday, May 16, 2021

Menginap di Rumah Eyang

Kami menginap di rumah eyang Sara Sofia selama liburan Lebaran ini,cukup lama, 5 hari. Dari rumah kami hanya membawa bekal papan gambar mereka dan beberapa buku yang sedang mereka baca. Karena anak-anak belum memulai pelajaran akademis, jadi kegiatan keseharian hampir sama dengan di rumah. 
Pagi-pagi kami bangun dan jalan di sekitar tempat eyangnya. Bonus bagi anak-anak, ada TK di dekat tempat eyangnya jadi tiap pagi mereka bisa main di sana, puas mereka bermain mainan anak TK seperti ayunan, seluncuran, jungkitan, dll. Sepulang dari TK main memanfaatkan yang ada seperti menggambar, membaca buku. Karena tidak membawa mainan dari rumah, mereka jadi kreatif memainkan apa yang ada di rumah eyangnya :bergelantungan di pintu, main dengan kucing, melompati kursi, berlari kesana kemari, dll. Terkadang mereka di dapur menemani eyangnya masak dengan mengobrol. 
Di sini ada banyak orang, ada eyangnya, eyang buyutnya, omnya, ontinya, tantenya, minanya. Anak-anak keluar masuk kamar eyang, om dan tantenya, entah untuk ngobrol, main boneka (tantenya ada yang mengoleksi boneka), ikut nonton laptop/gadget, dan banyak lagi. Kami biarkan saja 🤭 Kami memandang ini sebagai kesempatan bagi mereka bersosialisasi dan belajar berkomunikasi selain dengan orang tuanya. Biasa sehari-harinya hanya kami berempat di rumah. 

Selain itu, karena tiap rumah punya kebiasaan dan aturan yang berbeda,kami harus menjelaskan beberapa hal pada mereka. Di sini tidak bisa sembarangan menaiki kursi, melompat, dll. Eyangnya kuatir dan suka melarang, beda dengan papa mama yang tidak melarang asal aman dan kami dampingi. Lalu, di sini tidak bisa sembarangan berteriak karena siang eyangnya istirahat dan ada eyang buyut yang stroke. Kasihan eyang gak bisa beristirahat kalau anak-anak ribut. Yah, walaupun mereka tetap berteriak dan menangis juga sih. Lol. Pelan-pelan mengajarkan mereka berempati. Kami jadi menghayati belajar di mana saja dan kapan saja di sini 😁

Ada kejadian lucu diceritakan tantenya, tantenya pura-pura gak mengerti dan menanyakan apa gambar di buku ke Sara, eh Sara menjawab : Kan ada tulisannya Te 🤦‍♀️Tidak menyangka dia menjawab seperti itu 🙈

Catatan mas Aar :
Experiential learning atau belajar melalui pengalaman adalah sebuah proses belajar bukan dengan cara mendengarkan penjelasan di ruang kelas atau mengerjakan soal ujian. Proses belajar dilakukan menggunakan seluruh indera, melalui pengalaman nyata dan bermakna yang dialami oleh sang pembelajar.

Ada 3 aspek penting dalam experiential learning:
1. Pengalaman nyata & bermakna
2. Keterlibatan aktif sebagai subyek
3. Refleksi untuk mengkristalkan pengalaman

Proses belajar seperti ini biasanya dijalani oleh orang dewasa, tetapi juga bisa dijalani oleh anak.

Jangan lupa, aspek ke-3: refleksi itu dilakukan untuk memperkuat proses belajar.

Caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti:
~ tadi main sama siapa saja?
~ tadi main apa?
~ bagaimana ceritanya?
~ apa yang kamu rasakan?
~ apa yang tadi terjadi?
~ bagaimana menurut pendapatmu xxxx ?
~ dst

Palangka Raya, 16 Mei 2021 
-Mega Menulis-

No comments:

Roma 10, Amsal 25

Roma 10 Scripture Roma 10:17 (TB)  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.  Observation Apa yang aku dengar...