.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.
google.com, pub-1767695080484840, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saturday, May 15, 2021

Tidak Ada Teriakan/Tangisan Anak di Rumah, Mungkinkah?

Kami melatih anak-anak untuk jujur, terutama Sara. Kami mendapati dia beberapa kali berbohong karena takut menerima konsekuensi perbuatannya. Misal, dia menumpahkan air lalu berkata dedek yang melakukannya. Evaluasi kami sebagai orang tua, respon kami saat dia jujur selama ini mungkin salah jadi dia 'mengamankan' dirinya dengan berbohong. Kami belajar untuk lebih mengendalikan respon kami saat anak-anak melakukan kesalahan, penerimaan terlebih dahulu sebelum teguran. Anak bisa berbuat salah, kami tidak perlu bereaksi berlebihan. Tetap berusaha tenang, terima, baru memberi tahu dengan baik. Kami ingin mereka tahu bahwa kesalahan yang dibuat tidak mengurangi rasa sayang kami, yang terpenting kami tunjukkan caranya supaya tidak terulang lagi (yah, walaupun kadang terulang lagi dan lagi,berikan kami kesabaran ya TuhanπŸ™). Kami menegur supaya mereka tahu melakukan yang benar bukan sekedar mengekspresikan emosi karena kesal, kok kesalahan yang sama terulang. Pokoke belajar sabar, fiuh.... 
Nah, akhir-akhir ini kami sedang mendisiplin anak untuk tidak berteriak, tidak menangis (tanpa alasan yang jelas) dan tidak saling mengganggu waktu main. Kami briefing dan minta supaya setiap hari tidak ada tangisan, teriakan dan saling mengganggu waktu bermain. Kalau menangis karena sakit ya diperbolehkan, misal jatuh,ya lain cerita. Kalau berbicara gak usah pakai teriak. Seringnya kan kalau gak dituruti maunya saat bermain terus teriak, kami ajari untuk ngomong dengan baik. 

Untuk mengingatkan mereka kami membuat lagu sederhana ala jingle iklan dengan lirik seperti ini: Gak pakai nangis dan gak pakai teriak. Gak saling ganggu dan mainnya asyik. 

Apa dikata, sudah seminggu lebih sejak kami briefing dan tiada hari tanpa tangisan atau teriakan atau saling mengganggu dong. Kami merasa gagal. 
Bagian menyenangkan dan menghibur kami, Sara dan Sofia saat diajak ngobrol tiap malam, ditanya apakah ada yang menangis/teriak/mengganggu, mereka mulai jujur lo. Di hari-hari awal mereka enggan mengaku kalau ditanya. Tapi kami ingatkan, gak papa mengaku, besok kita coba lagi. Tadi adek menangis karena apa, oh karena kakak ganggu dedek, jadi besok kakak jangan isengin dedek lagi ya. Kakak menangis karena mainannya gak ada, lah tadi mainannya ditaruh sembarangan,besok jangan ditaruh sembarangan. 

Sekarang kalau ditanya pas malam, mereka ingat dan jujur menjawab yang dilakukannya, hari itu Sara menangis, atau Sofia berteriak, dll. Ditanya karena apa, mereka ingat dan mengaku. Tidak ada acara 'menyelamatkan diri' dengan berbohong. Terkadang sebelum tidur, Sara berdoa dan cerita sama Tuhan, hari ini membuat dedek nangis 🀭

Setiap hari memang masih dipenuhi kehebohan teriakan dan tangisan, tapi melihat kejujuran mereka saat malam,kami sangat bersyukur. 

Bahan evaluasi kami sebagai orang tua, mungkin tiada hari tanpa tangisan, teriakan dan saling ganggu itu terlalu berat saat ini di usia mereka yang masih di bawah lima tahun 🀣 Mungkin seharusnya dimulai hanya dengan 'tidak saling menganggu waktu bermain saja' πŸ€” Tangisan dan teriakan anak karena dia belum bisa mengendalikan dirinya, itu respon yang wajar di usia mereka. Jadi lebih penting saat ini membuat daftar penyebab mereka melakukannya, menganalisa mana yang paling sering menjadi penyebab dan membuat aturan yang jelas. Misal, salah satu penyebab tangisan dan teriakan yang paling sering : kakak suka mengatur adek untuk melakukan sesuatu dan adek gak suka. Jadi, ke depannya untuk sesi bermain perlu diajari mengajak adek main dengan sopan, kalau adek gak mau ya kakak main sendiri, gak perlu mengatur dedek main apa atau menggambar apa. Yah, hal-hal seperti itu. Sekarang sedang kami buat listnya untuk bahan evaluasi dan merencanakan kebiasaan baik apa yang perlu dilatihkan. Jadi kami gak punya lagi target supaya mereka gak menangis atau gak berteriak saat ini. Gak realistis πŸ˜‚ Apalagi kalau ini respon saat diganggu. Paling yang bisa dilakukan, kami ajar kakak mengajak adek main, dan adek menolak gak perlu berteriak, kakak juga gak perlu menangis kalau adek gak mau, cari mainan yang bisa dimainkan sendiri. Untuk gak saling menganggu saat main sendiri, tetap kami ingatkan.

Seiring usia yang bertambah dan berbagai pelatihan kebiasaan baik semoga kebiasaan nangis dan teriak bisa berhenti. Pelan-pelan Meg. Turunkan ekspektasi, buat target baru yang mudah. 

Catatan Mas Aar :
Bagus sekali dinamika mengelola ekspektasi, eksekusi, pengamatan, refleksi, serta corrective action-nya.

Keterampilan seperti ini sangat krusial dan perlu dilatih terus karena sangat diperlukan dalam proses homeschooling.

Kalau teman2 membayangkan dinamika kehidupan homeschooling, prosesnya kurang lebih seperti ini.
Bravo, kak! πŸ‘πŸ˜πŸ˜πŸ˜

Palangka Raya, 15 Mei 2021
-Mega Menulis-

No comments:

Roma 10, Amsal 25

Roma 10 Scripture Roma 10:17 (TB)  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.  Observation Apa yang aku dengar...